Bukti kolonialisme dalam Monumen Parigi Rante, Banda Naira

Monumen Parigi Rante: Bukti Kolonialisme di Tanah Banda

Sejarah manapun tentu akan memiliki cerita kelam di dalamnya, begitu juga dengan sejarah peradaban yang berkembang di Naira. Monumen Parigi Rante adalah salah satu pengingat bahwa kebengisan kolonialisme sangat dekat dengan bangsa kita. Parigi Rante terletak di Naira, dibangun berseberangan langsung dengan Benteng Nassau. Bangunannya tidak besar, terlihat sesederhana Pulau Naira.

Terdapat sumur atau dalam bahasa Banda disebut dengan parigi, yang dikelilingi pilar-pilar rendah yang dihubungkan dengan rantai hitam. Dua pilar yang lebih tinggi mengapit pariginya.  Agak menjorok ke dalam, terdapat plakat hitam di dalam monumen ini yang berisi empat puluh empat nama orang kaya Banda yang terbunuh dalam salah satu tragedi berdarah di tanah Banda. Monumen ini berdiri kokoh di atas permadani rerumputan hijau yang tumbuh mencuat kemana-mana, bersebelahan dengan lapangan kecil yang digunakan anak-anak Naira untuk bermain. Tidak ada ruangan khusus untuk menutupi bangunan ini sehingga siapapun yang lewat di depannya dapat melihatnya secara langsung, tentu tidak ada dana retribusi barang sepeser pun.

Cerita di balik pembangunan monumen ini tentu akan menyayat setiap hati orang-orang yang mendengarnya. Parigi Rante dibangun untuk memperingati kematian 44 orang kaya Banda yang pada saat itu diadili oleh pemerintah Belanda di bawah kepimimpinan Gubernur Jan Pieterszon Coen. Orang kaya disini bukan diartikan sebagai orang-orang yang memiliki harta berlimpah, namun merupakan orang-orang yang berpengaruh, tokoh masyarakat, atau pemimpin bagi masyarakat Naira pada masa itu. Pada saat Coen memimpin sebagai Gubernur Jenderal VOC, ia membawa pasukannya untuk menguasai Banda pada tahun 1621. Masyarakat Naira tak ingin dikuasai begitu saja oleh permainan licik perdagangan Belanda. Sehingga untuk menunjukkan kekuasaannya, Belanda mengumpulkan dan menyandera 44 orang kaya Banda agar masyarakat tak lagi memiliki pemimpin untuk melakukan perlawanan.

Diceritakan dalam sejarah, keempat puluh empat tawanan itu digiring ke dalam Benteng Nassau untuk kemudian dibunuh. Tubuh mereka dipotong-potong menjadi empat bagian oleh algojo Jepang yang sengaja dibayar oleh Belanda. Kepala mereka ditancapkan di ujung tombak-tombak, sedangkan  bagian tubuh mereka dililitkan di tombak-tombak tersebut untuk dipertontonkan kepada masyarakat agar masyarakat Banda merasa takut dan tunduk kepada Belanda. Kami bergidik tiap kali mengingat cerita tersebut.

Monumen Parigi Rante
Parigi Rante dibangun untuk memperingati kematian 44 orang kaya Banda yang pada saat itu diadili oleh pemerintah Belanda di bawah kepimimpinan Gubernur Jan Pieterszon Coen

Parigi Rante bukan hanya sekedar wisata sejarah, bagunan ini adalah sebuah pengingat. Tentang betapa heroiknya nenek moyang kita, betapa luar biasanya mereka mempertahankan tanah-tanah kelahirannya meski taruhannya adalah nyawa. Sehingga setiap tahun pada tanggal 8 Mei, masyarakat Banda menggelar acara peringatan terbunuhnya 40 putera terbaik Banda di monumen ini. Acaranya macam-macam, biasanya akan diawali dengan acara buka kampung lalu diikuti oleh serangkaian acara lainnya yang bervariasi seperti manggarebo belang hingga dzikir bersama.

Rute Perjalanan

Dari dermaga Naira, ambil persis jalan lurus melewati gapura kecil disebelah warung yang menjual aneka panganan lokal. Lurus terus sekitar 350 meter melewati Bank BRI hingga sampai di Rumah Sakit Umum Banda Naira. Ambil jalan ke kiri sekitar 100 meter, kamu akan melewati Kantor Pos Naira di kiri jalan, sedangkan di kanan jalan kamu sudah bisa melihat Monumen Parigi Rante. Kamu bisa berjalan santai atau menyewa jasa ojek untuk menjangkau monumen ini, tapi berjalan kaki lebih disarankan.

Penginapan & Fasilitas

Monumen ini terletak dekat sekali dengan Cilu Bintang Estate, tentu juga terletak tidak jauh dari pusat keramaian Naira. Pengunjung bisa bermalam di penginapan-penginapan sekitar Naira. Monumen ini merupakan one stop destination dari serangkaian destinasi wisata sejarah Naira yang bisa dikunjungi dalam satu hari saja. Tidak ada fasilitas apapun dan tidak ada dana retribusi di destinasi ini.

Waktu Berkunjung

Temukan atmosfer yang berbeda dan bertemu dengan masyarakat lokal ketika mengunjungi monumen ini pada hari ke delapan di bulan Mei. Namun sepanjang tahun, destinasi wisata sejarah di Naira bisa dikunjungi kapan pun yang kamu mau.(ulf/rfr)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *