Menebalkan Kebangsaan di Rumah Pengasingan Hatta

Rumah sederhana itu terletak di ujung pertigaan jalanan Naira yang lengang. Pagarnya yang berornamen berwarna kuning kenari dengan pinggiran cat kecokelatan. Rumah itu jauh dari kata mewah karena luas tanahnya yang tidak besar dan bangunannya yang tidak megah. Di pojok depan ada sebuah papan sederhana dengan cat putih yang bertuliskan “Rumah Pengasingan Bung Hatta”.

Mohammad Hatta, atau lebih akrab dipanggil Bung Hatta, pernah diasingkan di Kepulauan Banda tepatnya di Pulau Naira pada tahun 1936-1942. Sebelum dipindahkan kesini, pemerintah kolonial Belanda pernah mengasingkan Bung Hatta di Boven Digoel, Papua. Kecintaan Bung Hatta pada buku-buku dan kepeduliannya pada pendidikan membekas pada bangunan yang sempat menaunginya selama 6 tahun ini. Selama diasingkan, Bung Hatta membuka Sekolah Sore bagi anak-anak Banda yang pengajarannya disampaikan dalam bahasa Belanda. Selain itu, keloyalannya pada negeri inilah yang membuatnya terus menanamkan patriotisme kepada murid-muridnya maupun kepada orang-orang Banda.

Ruang tamu di dalam Rumah Pengasiangan Hatta ini terbilang sederhana
Terdapat beberapa gambar lama berbingkai yang tergantung di dinding rumah tua itu

Keadaan rumah pengasingan ini semakin membaik saat adanya pemugaran yang dilakukan pada tahun 1981-1983, setelah sebelumnya bangunan ini hancur oleh bom sekutu pada tahun 1944. Sepasang pintu depannya cukup tinggi dengan kaca-kaca yang dihias oleh gorden berwarna putih tulang. Melapisi pintu itu, di bagian terluar terdapat sepasang daun pintu yang terbuat dari kayu yang disusun berbuku-buku. Rumah itu memiliki nuansa khas Eropa dengan ubin-ubin terakota,  jendela-jendela yang besar dan langit-langit yang tinggi. Ruang pertama adalah ruang tamu, tempat semua barang-barang Bung Hatta dipamerkan. Ada kursi-kursi kayu lengkap dengan meja kecilnya; beberapa foto lama Bung Hatta yang digantung rapi memenuhi dinding; dan sebuah almari kaca tua berisi benda-benda kecil seperti kacamata, peci, sepasang sepatu, jas, dan tumpukan surat-surat lama. Di sebelah kanan, terdapat ruang kerja Bung Hatta yang berisi satu set meja dan kursi; diatasnya bertengger sebuah mesin ketik tua. Rak berisi buku-buku koleksi Bung Hatta juga masih tersimpan rapi di dalam ruangan itu. Di bagian belakang rumah, berjajar rapi tujuh pasang meja dan bangku kayu yang menghadap ke sebuah papan tulis kapur. Di atas papannya tersemat tulisan tangan Bung Hatta yang masih membekas “Sedjarah Perdjoeangan Indonesia Setelah Soempa Pemoeda di Batavia Pada Tahun 1928“. Siapa saja yang menatap pemandangan ini tentu akan bergetar, berjanji mati-matian untuk menebalkan kebangsaannya.

Menuju bilik-bilik ruang tempat Bung Hatta pernah tinggal selama 6 tahun
Kursi, lemari, maupun barang-barang kepunyaan Bung Hatta dipamerkan di rumah ini

Tidak hanya kondang di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara, Rumah Pengasingan ini juga sering dikunjungi oleh peneliti sejarah, baik dalam maupun luar negeri. Meski hanya enam tahun singgah di pulau kecil ini, namun kehangatan Bung Hatta akan selalu terkenang di hati setiap orang-orang Banda. Tentu, cerita mengenai seorang anak bangsa bernama Hatta tidak akan pernah lekang dan hilang dari seribu satu kisah di Banda Naira.

Rute Perjalanan

Bangunan ini terletak di Jalan Hatta, Desa Dwiwarna, Naira. Dari dermaga Naira, berjalanlah ke arah pasar. Dimulai dari pangkalan ojek, ambil jalur lurus sekitar 200 meter kemudian berbelok ke kiri di Jalan Gereja Tua (Jalan Ratu Litiselo). Lurus terus dan kamu akan menemukan Gereja Tua Naira di kiri jalan, lalu ambil jalan ke arah Benteng Belgica. Sekitar 400 meter menyusuri Jalan Hatta dari Gereja Tua Naira, kamu akan menemukan Rumah Pengasingan Hatta di kiri jalan yang terletak persis bersebelahan dengan Penjara Naira. Dibutuhkan waktu sepuluh menit saja berjalan dari pasar Naira menuju ke Rumah Pengasingan ini.

Penginapan & Fasilitas

Tidak ada fasilitas apapun di dalam situs ini. Namun, Rumah Pengasingan Hatta terletak di kawasan Naira yang cukup ramai, sehingga banyak fasilitas yang bisa ditemukan disekitar situs sejarah ini seperti restoran, cafe, penginapan, diving center, dan lainnya. Tidak ada dana retribusi di situs sejarah ini, namun disediakan kotak kayu dan buku kunjungan di ruang tamu. Maka berkenanlah menyumbangkan beberapa rupiah untuk biaya perawatan situs sejarah ini.

Waktu Berkunjung

Bangunan ini dirawat oleh seorang wanita bernama Emmy Baadillah, sepupu dari Des Alwi yang merupakan anak angkat Hatta dan Sjahrir. Biasanya setiap hari bagunan ini terbuka untuk dikunjungi saat terang, pun jika pintunya sedang tertutup maka orang-orang Banda yang tinggal disekitar bangunan ini akan membantu membukakan pintu.(mac/rfr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *